Rabu, 19 Agustus 2009

COMA

Lelah-nya hari ini,
Gue membantingkan tubuh gue ke atas tempat tidur dan memandang ke atas.
Memandang kegelapan di kamar gue dan mulai berpikir…
Gue terlentang di kegelapan dengan lampu kecil di sisi kanan tembok bersama anak gue.
Gue terlentang di kegelapan dan mempertanyakan keberadaan malaikat.
Berhalusinasi sosok malaikat yang akan datang di hadapan gue dan memberi gue satu buah lilin.
Gue bukan monster, jadi gue percaya malaikat itu ada. Malaikat itu ada dan selalu melindungi keluarga, saudara, sahabat, dan teman-teman gue.
Malaikat itu hadir di tengah manusia.
Memberikan penerangan buat mereka.
Memberikan kehangatan buat mereka.
Memberikan cinta dan kasih sayang buat mereka.
Yang gue harus lalukan adalah percaya. Walau sosoknya masih samar-samar di mata gue.
Menunjukan rasa terima kasih gue karena telah menjaga orang-orang yang gue Cintai.
Benar, harus percaya.
Percaya untuk mereka semua.

Gue terlentang di dalam kegelapan tanpa kepercayaan.
Mencari dan meraba layaknya orang buta.
Gue tau kepercayaan gue ada jauh di atas sana.
Hanya belum saatnya gue mendapatkan kepercayaan itu.
Walaupun gue berada di kegelapan saat ini gue masih saja mencari titik terang berakhirnya kegelapan ini. Walau masih jauh, gue akan terus berlari semampu gue, mengejar titik terang itu.
Mengejar larinya sebuah kepercayaan.

Gue mulai berkata-kata di dalam hati
“Matahari di Bumi.”
“Tumbuhan di darat.”
“Bantulah gue mencari sebuah kepercayaan”
Gue Mohon dengan sangat, arahkan titik terang mu sehingga membangun sebuah jalan yang memiliki tujuan.
Matahari di Bumi terangi-lah Putra-mu ini.
Tumbuhan di darat berikan-lah kekuatan mu pada Jiwa-mu ini.
Sekarang gue membalikan tubuh gue. Menutup mata Gue.
Perlahan-lahan menjauh dari kegelapan menuju kegelapan sesungguhnya.
Kegelapan yang penuh dengan imajinasi.
Kegelapan yang penuh dengan harapan
Kegelapan yang penuh dengan nafas.
Kegelapan yang penuh dengan kepercayaan.
Sejenak kemudian, kegelapan itu membuat gue percaya, membuat gue lupa akan lelahnya hari ini.
Sejenak kemudian, kegelapan membuat gue melihat malaikat dan iblis.
Malaikat yang ingin memberikan gue sebuah lilin dan bernyanyi untuk gue.
Iblis yang ingin membuat gue jatuh ke tanah dan menertawakan gue.
Karena takut untuk membayangkan, gue berpaling dan melihat sebuah bola Kristal.
Bola Kristal yang menyala, bagai berlian.
Berlian yang besar sekali, terbesar yang pernah kulihat.
Gue menghampiri bola Kristal itu dan melihat isi-nya.
Melihat diri gue sendiri.
Melihat kesalahan yang gue buat.
Melihat kecerobohan gue.
Melihat betapa lemah-nya gue tanpa orang-orang di sekitar gue.
Gue ingin menutup mata lalu teriak, tapi gue ngaa bisa.
Bagai Hipnotis gue dipaksa mental-nya untuk terus melihat. Dipaksa mentalnya untuk menjadi bisu.
Melihat diri gue sendiri.
Sepintas…
Orang itu hadir di depan sosok gue di dalam bola Kristal itu.
Orang yang berkamera dengan senyumnya yang bersinar.
Orang yang memiliki seni yang mengagumkan.
Orang yang belum lama ini menghantui hidup gue
Orang yang membuat gue salah tingkah.
Orang yang membuat gue ingin selalu berada di sisinya setiap saat.
Tiba-tiba orang itu memotret gue dengan kameranya dan… PRANK!
Pecahlah bola Kristal itu…
Pecah menjadi pasir putih berlian.
Serpihan putihnya membuat gue sadar.
Lalu…
Gue membuka mata gue… membalikan tunuh gue sekali lagi ke atas.
Melihat suasana kamar gue yang remang-remang.
Mendengar gemuruh dari langit yang tampaknya sebentar lagi aka turun hujan.
Lelahnya hari ini…
Maka besok hari gue harus pastikan jadi lebih baik dari hari ini.

3/3
Hendry’s

2 komentar: