Jumat, 14 Agustus 2009

JUST | Look at Me

Pulang dari kemewahan sesaat,
gue duduk dan mulai berpikir.
sambil bernafas dalam-dalam tercium,
Hawa lemon,
Harum yang seharusnya membuat gue tenang,
Malah membuat gue ingin meneteskan air mata.

DeBussy.
Suara yang menurut gue mewakili bunyi bumi dan surgawi.
berdetak,
berbisik,
dan bergelombang,
menusuk hati gue pelan-pelan,
Hati Pemuda yang sangat takut untuk menjadi dewasa.

Kenapa gue menjadi pengecut di tengah keramaian?
kenapa gue takut untuk menjadi dewasa?
Kenapa gue selemah kisah semut dan gula?
Kenapa gue tidak berani menatap kekuatan yang disebut cinta?
Sejumlah pertanyaan klise terlontarkan dari otak gue.

Realita ini, membuat gue menjadi kertas hvs putih.
yang mudah terobek dan mudah ternodai.
Mollusca.
Pipih dan tak bertulang.
Kadang terlihat menakjubkan.
Setakjub kematian.

Teriakan dan Sorakan seorang sahabat,
hilang di balik gelombang kehidupan.
Gue menyadari gue tidak boleh bergantung pada orotario orang fana.
Gue menyadari gue tidak boleh hidup terlalu bijaksana.
Gue menyadari gue tidak boleh menangis untuk hal yang gue banggakan.
Gue menyadari gue tidak boleh mengambil malaikat dari langit.
Karena jika gue tak sadar sekarang, pada pengakhiran gue akan menyesal.

Rasa sakit ini tidak akan pernah disembuhkan oleh batu meteor.
Agama, filsafat, dan Cinta merupakan sebuah dari estetika.
Hawa, Suara, Realita dan Kesadaran hati gue berada di atas estetika.
Kontaminasi dan diskriminasi menimbulakan kecemasan dan penderitaan.
Untuk itulah gue selalu mengharapkan hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini.

Gue duduk dan Mulai berpikir.
Bernafas dan sadar bahwa gue masih hidup.
Jalan gue masih panjang, namun jika dipikirkan dua kali akan terlihat lebih pendek.
Hawa lemon tidak membuat gue menangis,
Hanya membuat hati gue terharu,
Akan apa yang selama ini gue dapat.
Yang hampir semuanya sia-sia.

Hendry's

Tidak ada komentar:

Posting Komentar